Sejarah Madrasah

           Para pelaku sejarah adalah orang-orang yang perlu mendapat penghargaan yaitu paling sedikit berupa doa dan perhormatan baik dalam bentuk tulisan maupun dalam bentuk ucapan meskipun para pelaku sejarah itu sendiri tidak memintanya dikarenakan mereka beramal secara ikhlas demi kemaslahatan ummat.

            Sebagai ummat yang beragama sudah sepantasnya kita berterima kasih kepada mereka yang telah berjasa dalam merintis dan mengembangkan madrasah khususnya Madrasah Tsanawiyah Negeri 4 sejak awal hingga kini.  Sabda Rasul, “Laa yaskurunallaha man laa yaskurunnas yang artinya “tidak dianggap kamu bersyukur kepada Allah bila tidak berterima kasih kepada manusia.”  Jadi penulisan sejarah ini adalah dalam rangka terima kasih kita kepada para pioneer yang telah berjasa kepada madrasah terpadu di Rukoh Banda Aceh ini.

            Ide berdirinya Madrasah Tsanawiyah Negeri 4 ini adalah gagasan dari almarhum Bapak Prof. Dr. Safwan Idris, MA.  Pada tahun 1900-an, saat itu beliau menjabat Pembantu Rektor.  Beliau pernah bercita-cita dan menyampaikan kepada seseorang bahwa Insya Allah suatu saat nanti kita akan dirikan Madrasah Laboratorium untuk IAIN Ar-Raniry, agar mahasiswa IAIN, khususnya dari Fakultas Tarbiyah dapat melaksanakan praktek mengajar dan mengembangkan metodologi pengajaran di sana.

            Pada tahun 1996, ide Dr. Safwan Idris, MA ini disampaikan pada Menteri Agama, Prof. Malik Fajar, dan mendapat sambutan yang positif.  Rencananya, siswa yang belajar di Madrasah Laboratorium ini sekaligus menginap di asrama.  Tujuannya agar siswa dibekali dengan ilmu bahasa Arab dan Inggris serta budaya Aceh.  Diharapkan setelah tamat nanti mereka dapat menjadi bibit unggul bagi IAIN Ar-Raniry dan Universitas lainnya di Luar Negeri.

            Alhamdulillah, pada tahun 1999 pendirian Madrasah Laboratorium IAIN menjadi kenyataan, yaitu pada saat Presiden Republik Indonesia dijabat oleh Bapak Prof. Dr. Ing. B.J Habibie.  Bapak presiden menganjurkan agar memperhatikan pendidikan di Aceh.  Usulan beliau ini mendapat sambutan dan diangkatlah sejumlah guru untuk tingkat Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah serta penegerian beberapa madrasah.  Hal ini berdasarkan Surat Keputusan Menteri Agama No. 71 tanggal 22 Maret 1999.  Khusus untuk Madrasah Laboratorium IAIN Darussalam mendapat jatah sebanyak 68 orang guru,  yaitu untuk MTsN 33 orang dan untuk MAN 35 orang.  Rencana awalnya tenaga guru dan silabus Madrasah Terpadu Rukoh ini ditentukan dan dirancang oleh IAIN Ar-Raniry sedangkan Kanwil Depag mengurus masalah administrasi dan pengangkatan. 

            Pada saat itu Madrasah Laboratorium ini tidak memiliki Madrasah Ibtidaiyah, maka diambillah Madrasah Ibtidaiyah Rukoh sebagai cikal bakalnya.  Hal ini juga yang menyebabkan nama madrasah Laboratorium iniakhirnya disebut Madraasah Tsanawiyah Rukoh dan Madrasah Aliyah Rukoh yang sebelumnya pernah diberi nama MTsN Ar-Raniry dan MAN Ar-Raniry hingga tahun 2002.  Pada awalnya, rencana pembangunan gedung untuk MTs dan MA juga berada di Rukoh terpadu dengan Madrasah Ibtidaiyah, tapi gagal akibat masyarakat Desa Rukoh keberatan karena khawatir lahan lapangan bola kaki mereka terkena proyek pembangunan.  Akibat selanjutnya, rencana pembangunan gedung MTs dan MA dialihkan kembali ke komplek IAIN yang berdekatan dengan komplek Madrasah Ibtidaiyah Rukoh.

            Madrasah terpadu ini berstatus negeri sejak pendiriannya karena telah memiliki tenaga guru negeri dan nama madrasah, yaitu MTsN dan MAN Rukoh, tapi belum memiliki siswa yang cukup.  Berkat usaha yang gigih dari Kepala Madrasah Tsanawiyah yang pertama, Drs. Abdul Hamid, dan Kepala Madrasah Aliyah, Drs. Dahlan Sandang, kedua madrasah ini mendapat murid tahun pertama masing-masing.  Untuk mendapatkan siswa tersebut tidaklah gampang karena Kepala Madrasah harus turun ke masyarakat mempromosikannya dengan cara pergi ke desa-desa dan menempelkan plakat atau brosur pada pohon, kios, dan ruko yang ada disana.

            Disamping itu, DR. Safwan Idris, MA juga sering mempromosikan madrasah ini melalui ceramah di kampus dan bahkan pada khutbah Jum’at di Darussalam.  Disebutkannya bahwa Menteri Agama segera mengeluarkan SK Negeri bagi Madrasah Laboratorium IAIN oleh karena itu bagi masyarakat dan kalangan dosen di IAIN agar memasukkan anak mereka ke madrasah ini.

            Gedung yang dipakai untuk tempat pembelajaran MTsN pertama kali adalah sebagian Gedung Fakultas Ushuluddin yang lama sebanyak 4 ruang dan 2 ruang lagi adalah tempat parkir yang dijadikan ruang belajar.  Sedangkan tempat belajar untuk MAN adalah gedung SPU yang telah menjadi komplek Pasca Sarjana saat ini.

            Pada tahun 2000/2001 MTsN pindah tempat ke gedung Micro Teaching Fakultas Tarbiyah disebabkan karena bertambahnya jumlah siswa dan kapasitas ruang belajar di gedung lama sudah tidak memungkinkan lagi.  Sementara itu MAN masih berada di Komplek Pasca Sarjana.

            Pada tahun 2002/2003 MTs dan MAN menyatu kembali dan mulai menempati gedung baru yang cukup megah dengan nama MTsN dan MAN Rukoh Kota Banda Aceh.  Gedung ini dibangun di komplek IAIN dengan biaya bantuan pemerintah.

            Rencana semula tempat pendirian Madrasah Terpadu ini adalah berdekatan dengan Gedung Tarbiyah yang baru karena berdekatan dengan Madrasah Ibtidaiyah Rukoh.  Hal ini adalah berdasarkan keinginan Bapak Prof. Dr. Safwan Idris, MA.  Namun setelah beliau wafat, keinginan beliau tak terealisasi karena setelah diadakan rapat kedua pihak yaitu dari IAIN dan Kanwil Depag sepakat bahwa tempatnya adalah pada tanah yang diduduki sekarang ini.